top of page

Psikopat

  • Writer: lailanabilalhuda
    lailanabilalhuda
  • Jan 7, 2024
  • 1 min read
"Terlambat!!! Sudah tidak bernyawa. Lehernya terkoyak sangat parah. Darahnya berceceran di mana-mana."

Tidak seperti kebanyakan malam, malam kali ini angin berhembus lebih kencang. Suara jangkring dan kodok yang biasanya saling bersahutan mendadak sepi. Sesekali ada lengkingan panjang seperti suara serigala di ujung bukit. Mencekam.


Aku berpatroli sebentar mengelilingi gedung. Mengecek semua pintu apakah sudah terkunci rapat. Memastikan semua perangkap sudah terpasang dengan baik di tempatnya. Serta berniat mengambil secangkir kopi hitam panas di dapur lengkap dengan camilannya. Namun, tiba-tiba,


"Yhaaa... Cepaatt ke belakangg!!!" Atasanku berteriak sangat keras.


Tanpa menjawab, aku sigap meraih senter dan berlari tunggang langgang menuju tempat yang dimaksud.


Di sana sudah samai dengan teriakan-teriakan ketakutan. Mereka berkumpul menjadi satu gerombolan, mencoba saling menenangkan satu dengan yang lain.


Begitu aku tiba, aku langsung menyorot-nyorotkan senter. Mencari apakah ada korban jiwa. Benar saja, tidak sampai lima menit aku mencari, aku menemukan mayat itu. Darah berceceran. Kepalanya bahkan hampir terlepas dari badannya. Kondisi lehernya juga sangat parah. Seakan si pembunuh sengaja melakukan itu.


Sedangkan di sisi lainnya, teman-teman korban yang menyaksikan mayat itu terpojok. Teriakannya sudah mereda begitu aku sampai di lokasi. Tapi aku masih menemukan rona ketakutan pada wajah kecil tanpa dosa itu.


"Bagaimanaa??" Atasanku datang.


"Terlambat!!! Sudah tidak bernyawa. Lehernya terkoyak sangat parah. Darahnya berceceran di mana-mana."


"Aahh.." Teriakannya mengagetkanku dan gerombolan itu. "Sial!!! Awas saja jika kau berhasil aku tangkap!"


"Memang kejadian seperti ini sudah sering terjadi?" Tanyaku penasaran.


"Sudah sekitar seminggu ini. Bayangkan saja, ada lima ekor anak ayam dan sepuluh ekor anak menthok dengan kualitas yang baguss. Mereka semua satu persatu dihabisi oleh hewan yang aku tidak tahu apa." Senior mengacak-acak rambutnya.

Recent Posts

See All
Azka dan Rubi #4

Tim Tari Saman sekolah memutuskan untuk merekam penampilan perdana kami di aula tengah. Setelah berdiskusi dengan guru, tempat itu dirasa...

 
 
 
Azka dan Rubi #3

“Azkaaa....” Yani berteriak sejak memasuki pintu kelas. Tidak ada lagi yang kaget dengan teriakan pagi Yani karena teman-teman kelasku...

 
 
 
Akhir Pemberhentian

“Ini cuma dunia saja, Sai! Kamu selalu bilang ke aku kalau tujuan akhir kita itu akhirat, kan?” Pernyataan yang sering aku ulang-ulang...

 
 
 

Comments


Post: Blog2_Post
  • Twitter
  • Instagram
  • Tumblr

©2021 by notesthebook. Proudly created with Wix.com

bottom of page