top of page

Azka dan Rubi #3

  • Writer: lailanabilalhuda
    lailanabilalhuda
  • Jan 10, 2024
  • 3 min read

“Azkaaa....” Yani berteriak sejak memasuki pintu kelas. Tidak ada lagi yang kaget dengan teriakan pagi Yani karena teman-teman kelasku sudah terbiasa dengan tingkahnya. “Aku nggak sabar latihan nanti sore,”


“Kayaknya aku nggak bisa ikut latihan, deh, nanti sore.” Aku buru-buru memotong pembicaraan Yani.


“Hah? Kenapa?”


“Lututku sakit.”


“Demi apaaa...” wajah Yani setengah kecewa. Latihan tari saman nanti sore sudah kami agendakan jauh-jauh hari. Meskipun sempat mendapatkan penolakan dari sekolah ketika kami mengatakan ingin membuat satu ekstrakurikuler baru, pada akhirnya sekolah menyetujui dan kami langsung menghubungi Mbak Dewi untuk jadi pengajar. Jadwal pertama nanti sore. Ada dua belas anak yang berminat, tapi tidak tahu apakah nanti sore mereka semua akan datang atau tidak.


“Kemarin aku habis jatuh dari motor.” Aku menjelaskan singkat.


What?” mata Yani membelalak. “Tapi kamu nggak papa, kan? Selain lutut, ada lagi yang sakit? Bentar, bentar. Kamu jatuh di mana? Kok, bisa jatuh? Terus kemarin yang nganterin pulang siapa? Ini beneran, hari ini kamu masuk sekolah? Nggak mau istirahat saja di UKS? Ayok, aku temenin, Ka!” Yani terus mencerocos tanpa henti.


“Yaaannn... Satu-satu pertanyaannya bisa?”


“Yaa... enggak, lah.” Matanya masih tetap membelalak.


“Huuhh...” aku menghembuskan napas, “Punya teman kayak kamu, tuh, effortnya besar, yaaa...” aku setengah meledek Yani. Mukanya benar-benar nggak bisa dikondisikan.


“Azka Nada Intani!” Yani memanggil namaku dengan lengkap. Kalau dia sudah begitu, itu tandanya memang dia sedang serius. Aku menceritakan kejadian kemarin sore sedetail mungkin. Tapi aku tidak menyebutkan nama Rubi.


“Yaudah, nanti sore kamu istirahat aja di rumah. Nanti aku ajarin kamu gerakannya biar pekan depan nggak ketinggalan.”


Obrolan pagi kami berhenti ketika Bu Isti masuk kelas. Pelajaran pertama Bahasa Indonesia. Tanpa basa-basi, Bu Isti bahkan langsung membagi kelompok dua orang-dua orang. Acak.


“Yaahhh....” suara-suara kekecewaan memenuhi kelas pagi ini. Tidak ada yang setuju dengan pembagian kelompok secara acak. Tapi entah kenapa, Bu Isti selalu membagi kelompok secara acak. Menyebalkan.


Semua nama sudah disebutkan satu per satu, kecuali namaku.


“Ada yang belum dapat kelompok?” tanya Bu Isti.


“Saya, Bu.” Aku sontak mengangkat tangan.


“Saya juga belum, Bu.”


Aku refleks menengok ke belakang. Rubi.


“Okeh. Kalian berdua jadi satu kelompok!” Bu Isti berkata dengan mantap.


Rubi segera menghampiriku. Dia bahkan tidak canggung untuk langsung duduk di sampingku, di bangku milik Yani.


“Aku kira hari ini kamu bakal izin.” Rubi mengawali percakapan tanpa ragu.


“Eeemm.. Soalnya nanti sore ada ekskul saman.” Aku mencoba mencari-cari alasan.


“Saman?”


“Iya. Ekskul baru.”


“Oh.”


Setelah percakapan pembuka itu, aku dan Rubi hanya fokus mengerjakan tugas yang diberikan Bu Isti. Meskipun hanya ada tiga pertanyaan, tapi soal dari Bu Isti benar-benar membuat kami harus berpikir. Tiga jam pelajaran bahkan tidak cukup untuk menyelesaikan semuanya.


“Nanti saman jam berapa? Kalau kita selesaiin ini dulu habis bel pulang sekolah gimana? Nanggung banget. Dikit lagi selesai.” Ternyata Rubi termasuk golongan cowok yang mengerjakan tugas tepat waktu. Nggak suka menunda-nunda, beda sama aku.


“Bisa. Lagian nanti aku juga nggak bisa ikut latihan, kok.” Aku menjawab dengan santai.


“Kenapa?” tiba-tiba Rubi memalingkan wajahnya tepat ke hadapanku.


“Aaah.. iniii.. soalnya kaki aku sakit. Jadi nanti sore nggak bisa ikut latihan. Paling cuma lihatin aja.”


“Oke,” kalimat Rubi seakan menggantung. “Tapi kamu bisa jalan, kan?”


“Bisalah!” entah kenapa aku langsung ngegas. “Kalau nggak bisa jalan, aku nggak mungkin masuk sekolah. Lagian aku tadi juga berangkat sekolah naik motor. Sudah sana balik ke tempat duduk.” Aku tiba-tiba mengusir Rubi.


Pelajaran selanjutnya terasa sangat lama. Aku mulai pusing dan pegal-pegal di badanku mulai terasa sangat berat. Bel istirahat pertama berbunyi. Aku menitip roti dan air mineral ke Yani. Sambil menunggu, aku meletakkan kepalaku di meja. Memejamkan mata. Aku masih berharap untuk bisa mendengar petikan gitar Rubi. Tapi aku tak kunjung mendengarkan, dan aku terlelap.


Yani mengguncang pelan pundakku. Ia menyodorkan air mineral dan roti titipanku. Aku segera meminum obat yang tadi aku bawa dari rumah. Karena tergesa, aku tidak sempat meminumnya di rumah. Masih ada tujuh menit sebelum bel masuk berbunyi. Aku memutuskan untuk tertidur sebentar. Siapa tahu obatnya akan lebih bekerja ketika aku memejamkan mata.

 

 

 

 

Recent Posts

See All
Azka dan Rubi #4

Tim Tari Saman sekolah memutuskan untuk merekam penampilan perdana kami di aula tengah. Setelah berdiskusi dengan guru, tempat itu dirasa...

 
 
 
Akhir Pemberhentian

“Ini cuma dunia saja, Sai! Kamu selalu bilang ke aku kalau tujuan akhir kita itu akhirat, kan?” Pernyataan yang sering aku ulang-ulang...

 
 
 
1-0

Aku mengambil beberapa barang dan jajanan pesanan teman-teman. Cukup mudah menemukan barang incaranku karena supermaket sedang tidak...

 
 
 

Comments


Post: Blog2_Post
  • Twitter
  • Instagram
  • Tumblr

©2021 by notesthebook. Proudly created with Wix.com

bottom of page