Akhir Pemberhentian
- lailanabilalhuda
- Jan 8, 2024
- 4 min read
“Ini cuma dunia saja, Sai! Kamu selalu bilang ke aku kalau tujuan akhir kita itu akhirat, kan?”
Pernyataan yang sering aku ulang-ulang setiap hari untuk jangan terlalu mengejar dunia dan harus selalu ingat kalau tujuan akhir yang ingin dicapai itu akhirat, pada akhirnya harus aku dengar dari sahabatku sendiri, Fathina. Bukannya aku tidak senang, tapi dadaku justru terasa sesak berkali-kali lipat. Air mataku tidak mau berhenti mengalir. Tanganku terus memukul-mukul bantal yang sudah basah. Bahkan, langit seakan turut marah padaku, gelegar petir terdengar sangat nyaring.
“Aku kasih kamu waktu tiga hari, Sai! Nggak lebih. Aku harap kamu bisa kembali dengan hati dan perasaan yang lebih baik. Aku nggak akan ke sini sebelum tiga hari berlalu. Tapi kalau kamu butuh aku, aku siap ke sini kapan pun. Aku pamit pulang dulu.”
Aku tertidur. Hujan lebat disertai petir yang tadi menghiasi deru tangis dan sesakku sudah berhenti. Mataku sembab. Kamarku berantakan. Setelah beberapa menit menekuri kondisi kamarku dan perbuatanku tadi pagi pada Fathina, aku beranjak menuju dapur. Haus.
Sepanci kecil soto ayam sudah ada di atas kompor. Lengkap dengan notes kecil kuning di sampingnya: ‘Buat makan siang. Jangan lupa dipanasi dulu.’ Pasti ulah Fathina. Siapa lagi yang berani masuk rumahku selain dia? Nggak ada.
Sendiri. Aku duduk di ruang tengah. Menyantap semangkuk soto ayam lengkap dengan tempe goreng dan sate usus. Setelah itu, aku memutuskan untuk beberes rumah. Mulai dari kamar tidur, dapur, ruang tengah, kamar mandi, dan balkon. Tiga jam waktu yang aku perlukan untuk membersihkan semuanya. Setelah itu aku mandi. Membersihkan diri. Lalu pergi ke kamar dan membuka buku jurnal harianku.
Lembar pertama; kalau mau dapet akhirat, jalannya memang sulit dan berliku.
Lagi. Aku ditampar oleh diriku sendiri. Tanpa pikir panjang, langsung ku buka lembar kosong. Semua unek-unek aku tuliskan.
Aku sudah mengajar selama hampir sepuluh tahun. Selama jangka waktu itu, ada silih berganti permasalahan yang datang. Sebisa mungkin aku lewati, semampuku, meski banyak juga yang gagal. Tapi kali ini, rasanya aku benar-benar sudah tidak sanggup. Sepuluh tahun bukan waktu yang sebentar. Aku harus memulai hitungan karier mulai dari nol lagi di usiaku yang sudah lebih dari 34 tahun. Setega itukah mereka? Izinku untuk melanjutkan studi selama tiga tahun seharusnya tidak menjadi masalah serius. Kemarin aku bertemu langsung dengan Bu Rita dan Pak Yeyeb. Aku tabayunkan langsung dengan mereka berdua. Meskipun sudah tiga tahun aku meninggalkan sekolah, tapi aku beranikan untuk kembali datang dan menemui mereka berdua supaya aku bisa tahu duduk perkaranya. Tidak ada satu pun jawaban dari mereka yang masuk logikaku. Aku dikuasai amarah. Sepuluh tahun yang kulewati dengan susah payah dihancurkan begitu saja. Tidak ada solusi. Aku sudah mengusahakan segala cara. Bertanya dengan berbagai pihak, termasuk dinas. Tidak bisa dipulihkan, karena sistem yang membaca. Hangus. Sepuluh tahunku tidak lagi tersisa. Aku harus memulai dari hitungan nol.
Suara telepon berbunyi. Dari Ira. Sahabatku sewaktu kuliah dulu.
“Assalamu’alaikum, Ra.”
“Wa’alaikumsalam Warahmatullah. Lagi apa, Sai? Aku ganggu nggak?”
“Habis beberes rumah. Ini lagi selonjoran aja di kamar. Gimana, Ra?”
“Eh, pindah ke video call, yuukkk.. pengen lihat wajahmuu...” Ira setengah merengek. Padahal dia sudah punya satu anak laki-laki, namanya Amar.
“Bolehh, dehh..”
“Assalamu’alaikum, ammah... Amar habis ganti baju, nih, ammah. Tadi Amar ngompol hehehe...” Ira berpura-pura berbicara menggantikan Amar.
“Wa’alaikumsalam Amar. Masyaaallah ganteng banget, Amar. Gembul banget pipinya, Ya Allah, Ra!”
“Keturunan gue, Sai.”
Kami basa-basi cukup lama. Sampai Amar diambil alih oleh suami Ira. Lalu kami beralih ke mode telepon biasa, tanpa video.
“Semenjak gue nikah, ada satu prinsip suami gue yang turun ke gue.”
“Apa, Ra?”
“Masalah yang gue alami. Baik itu masalah rumah tangga, masalah pekerjaan, atau masalah gue sendiri sebagai seorang ibu, itu bukan sebuah masalah baru. Masalah-masalah itu nggak cuma gue saja yang ngalamin. Ada banyak orang-orang di luar sana yang mungkin punya masalah serupa kayak masalah yang gue punya sekarang. Dan ada banyak juga dari mereka yang berhasil melalui masalah-masalah itu.”
“Tapi kamu kan bukan mereka, Ra.” entah kenapa, kali ini aku merasa nggak sependapat sama Ira.
“Iyaaa... gue bukan mereka. Dan kemampuan gue buat menghadapi masalah juga berbeda dari mereka. Tapiii... pikiran itu ngebantu gue buat mengerahkan seluruh kemampuan yang gue miliki. Gue jadi punya pemikiran kalau gue itu bukan satu-satunya orang dengan masalah yang super besar. Ada banyak orang yang punya masalah serupa sama kayak gue.”
“Terus?”
“Gue nggak sendiri, Sai.”
Aku hanya bisa diam.
“Selain itu, gue juga punya Allah. Ya, meskipun ada kalanya gue juga beberapa kali sempat ngerasa sendiri ketika terjebak dalam masalah-masalah ruwet. Tapi di saat yang sama, gue juga selalu inget perkataan elu.”
“Perkataanku?”
“Iyaa... dulu kan elu sering banget bilang, kalau setiap ada kesulitan pasti selalu ada kemudahan. Redaksinya bukan setelah ada kesulitan, ada kemudahan. Tapi beserta kesulitan ada kemudahan. Waahh... gilak, sih, lu, Sai! Gue harus banyak-banyak bersyukur sama Allah udah kirim orang kayak elu ke kehidupan gue.”
“Beserta kesulitan ada kemudahan..” tanpa sadar, aku kembali mengulang kalimat itu. Iya, dulu itu salah satu kalimat andalanku di kampus yang sering aku gembor-gemborkan. Allah sudah kasih satu paket kesulitan dan kemudahan sekaligus. Keduanya adalah satu kesatuan, bukan eceran. “Makasih, ya, Ra.”
“Hah? Makasih?”
“Iya. Makasih udah nelpon aku.”
Obrolan kami ditutup dengan berbagi resep donat kentang. Dan seketika itu pula aku membaik. Meskipun tetap masih menyisakan sedih, tapi aku cukup senang dengan progress ku yang tidak lagi menghakimi diri sendiri, orang lain, atau bahkan takdir.
Aku memutuskan mengajak Fathina safari masjid keesokan harinya. Masjid Agung Magelang menjadi sasaran destinasi utama kami. Butuh waktu sekitar tiga jam perjalanan menggunakan motor. Kami juga sepakat untuk tidak mengobrol masalah pekerjaan.
“Jadi kayak yang Allah mau ituuu... emang berat, ya, Sai?”
“Hah?”
“Tapi gapapa, karena nanti ganjarannya nggak bakal kaleng-kaleng.”
Comments