Azka dan Rubi #4
- lailanabilalhuda
- Jan 10, 2024
- 1 min read
Tim Tari Saman sekolah memutuskan untuk merekam penampilan perdana kami di aula tengah. Setelah berdiskusi dengan guru, tempat itu dirasa paling pas, mulai dari pencahayaan dan lebar panggung. Sebenarnya ada satu lagi panggung kecil yang bisa digunakan, tapi pencahayaan di sana tidak terlalu baik untuk direkam kamera. Kami memilih waktu pagi di hari Jumat. Kebetulan hari Jumat besok ada sosialisasi dari dinas. Tidak ada pelajaran untuk kelas sebelas. Tapi anak-anak kelas sepuluh dan dua belas tetap belajar seperti biasa. Aula tengah sudah ramai bahkan sebelum tari dimulai. Mereka memenuhi aula tengah dan duduk berbaris tanpa diminta.
“Minta tolong, ya, teman-teman. Nanti kalau sudah dimulai, mohon jangan berisik, karena ini direkam dan akan diikutkan lomba.” Juanda, teman sekelasku, sukarela menjadi videografer. Katanya sekalian buat mengasah kemampuannya merekam dan mengedit.
Aku, Yani, dan teman-teman penari mempersiapkan diri di ruang OSIS. Kami meminjam ruang OSIS untuk tempat make up dan berganti pakaian. Persiapan sudah kami mulai sejak pukul 06.00 pagi. Aku yang selesai persiapan paling awal mencoba mengintip ke luar ruang OSIS, melihat keadaan aula yang dipenuhi anak-anak kelas sebelas.
“Sukses, ya, Ka.” Kepala Rubi tiba-tiba muncul tepat di pintu ruang OSIS yang kubuka sedikit lebar. Sontak aku membelalakkan mata. Terkejut.
“Amiin.. Makasih, ya.”
“Nanti aku izin fotoin kalian pas lagi tampil boleh?”
Aku bertambah kaget. Tidak menyangka Rubi akan berkata demikian.
Yuni yang sedang berkaca di belakang pintu pun langsung menyahut sambil membuka pintu lebih lebar. “Oh, ya, tentu. Boleh banget, Bi. Foto yang bagus yaa...”
Comments