1-0
- lailanabilalhuda
- Jan 7, 2024
- 2 min read
Aku mengambil beberapa barang dan jajanan pesanan teman-teman. Cukup mudah menemukan barang incaranku karena supermaket sedang tidak begitu ramai. Aku jadi bisa leluasa bergerak meskipun membawa troli besar.
“Busyeet.. banyak banget ini belanjaan, Kar!!!” Pandu datang dari arah depan sambil menenteng jajanannya.
“Pesenannya anak-anak basecamp. Tinggal cari tiga barang lagi. Mau bantuin gak, Ndu? Aku dari tadi gak nemu-nemu. Susah banget, deh.”
“Apa yang kurang?”
“Coklat Silverqueen yang matcha, yang paling besar.” Aku terdiam sejenak, mengecek list belanjaan di handphone. “Sama titipannya Rita, keju parmesan. Udah, kamu cari dua itu saja. Nanti aku cari pesenannya Ridho.”
Pandu sibuk melihat-lihat barang belajaan di troli, tapi sebenernya lebih ke mengobrak-abrik, sih. “Ridho nitip apa?”
“Dia nitip obat mag. Tapi gatau ada apa enggak.”
“Udah, lo langsung ke kasir aja, sekalian antri. Obat magnya Ridho biar gue sekalian yang cari. Ntar kalo dah nemu gue samperin. Kalau obatnya gaada, ntar kita mampir ke apotik deket sini aja.”
“Oke. Thankyou, ya, Ndu.”
“Yuhuuu..”
Sepuluh menit berlalu. Antrianku sudah mulai memendek. Satu orang lagi, lalu giliranku. Dan Pandu belum menampakkan batang hidungnya. Gawaiku bergetar. Dari Pandu.
“Halo, Ndu. Di mana?”
“Obat maagnya Ridho merek apa?”
“Mylanta.”
“Okee.”
“Ada nggak?”
“Ada. Aman. Lo udah di kasir?”
“Satu orang lagi. Buru ke sini, deh!”
“Oke.”
“Udah dapet semua belum?”
“Udah. Aman.”
“Oke. Aku tunggu yaa..”
“Oke.”
Karena barang belanjaan kami super duper banyak. Mungkin lebih dari lima belas menit aku di kasir. Pandu? Jangan tanya. Dia asyik duduk di samping bapak-bapak yang nungguin istrinya belanja, tentu tidak lepas dari handphone-nya.
“Pandu! Udah, nih. Ayok.”
“Gilaaa… Sebanyak iniii??” muka Pandu beneran gak bisa bohong kagetnya. Tapi entah kenapa lucu. “Okeh. Gue kuat, kok, Kar. Tenang aja.” Bahkan Pandu sampai niat hati menggulung lengan bajunya.
Mbak kasir sampe senyum-senyum lihat tingkah Pandu. “Bisa dibawa pakai troli dulu, Kak, sampai parkiran. Nanti kalau sudah selesai, trolinya bisa dikembali ke dekat pintu keluar.”
“Naahh.. ide bagus, Mbak. Makasih, ya, Mbak.” Muka Pandu langsung sumringah banget. Bahkan Pandu tiba-tiba ngajakin mbak kasir buat jabat tangan.
“Apaan, sih!” aku reflek mukul punggung Pandu.
Setelah semua kardus masuk ke mobil, aku dan Pandu langsung menuju ke basecamp. Tidak banyak percakapan di mobil. Kami hanya fokus mendengarkan musik saja. Tentunya musik kesukaan Pandu. Menurutku, selera musik dia unik. Dia bukan orang dari suku Jawa, tapi suka banget sama lagu-lagu yang berbahasa Jawa. Penyanyi mulai dari Didi Kempot, Deni Caknan, sampai Heppy Asmara pun dia tahu semua.
Sampai di basecamp, aku langsung bagiin satu-satu pesenan anak-anak. Semua pesenan mereka terbeli dan kardus-kardus yang berisi barang belanjaan sudah kosong.
“Punya lo mana?” tiba-tiba ada yang nyeletuk dari belakangku. Pandu.
“Ha?”
“Lo udah baik banget beliin pesenannya mereka semua. Lo gak beli buat diri lo sendiri?”
Jujur, pertanyaan Pandu di luar ekspektasiku. Rasanya nggak pernah ada yang tanya itu ke aku sejauh ini. “Lagi nggak pengen beli apa-apa. Santai aja, udah.”
“Lain kali, barang pertama yang harus lo cari itu barang yang pengen lo beli.” Aku nggak bisa jawab apa-apa. Bahkan mataku gak bisa lurus natap Pandu. Aku cuma bisa natap keramik lantai sambil angguk-angguk kepala.
“Nih..” Pandu menyodorkan minumannya. “Minuman favorit gue, sih. Tapi kali ini gapapa buat lo aja.”
“Makasih, Ndu.”
Comments