top of page

Memasak

  • Writer: lailanabilalhuda
    lailanabilalhuda
  • Jan 7, 2024
  • 2 min read
"Semua orang itu bisa memasak, termasuk kamu, Sai. Sekarang, pilihlah dahulu. Kau mau mengambil proyek ini dengan segala resiko atau tidak? Aku butuh kepastianmu supaya aku bisa menyusun strategi."

Entah bagaimana, bolak-balik ke kamar mandi pada pagi hari terasa sangat merepotkan. Juga ditambah dengan hawa dingin yang menembus tulang. Serta perasaan tak nyaman karena ini hari pertama berkumpul dengan tim. Seakan perut juga bingung dengan sebab mules yang tak berkesudahan.


"Bagaimana? Barangkali ada yang ingin kau tanyakan setelah penjelasanku barusan, Sai?" Udi bercakap sangat lama dan ditutup dengan pertanyaan yang harus dijawab dengan pertanyaan pula.


Ku perhatikan tangan Udi yang dari tadi hanya berputar-putar menunjuk karpet, entah apa yang dia gambar dan coba jelaskan. Tapi aku mencoba mengerti.


"Jadi bagianku di mana?" Tak ada basa-basi.


"Di dapur. Tugasmu menjadi koki. Menu utama berbahan dasar ayam. Kau pasti bisa mengolahnya." Ungkapannya seakan dipenuhi keyakinan.


Tak bisa ku sembunyikan pelototan mata, "Kau yakin? Rasanya aku justru yang tak yakin dengan diriku sendiri?"


"Ya. Apa yang salah?"


"Hanya kau perlu mengubah kebiasaanmu untuk tidak mudah melumpuhkan diri sendiri." Aku diam.


"Tatang bersama dengan tim. Nanti kau akan lebih banyak berdiskusi dengannya. Tapi untuk tahap awal, aku ingin kau belajar menggunakan tanganmu. Kau harus membiasakan diri berteman dengan minyak panas, ayam, tepung, sayuran, dan cabai."


"Kita mulai di pekan ini?"


"Tentu saja. Semakin cepat persiapan, semakin cepat proyek ini dibuka."


***

Sebanyak empat kali aku mencari resep terbaik. Dan sebanyak empat kali juga aku gagal. Entah ayam yang dimasak belum matang, rasa yang hambar, tepung berserakan, minyak beterbangan, dan pedas pada tangan.


Sampai pada hari peluncuran, yang sebelumnya masih ada perdebatan mengenai konsep nasi. Apakah disajikan dengan porsi atau bebas mengambil sebanyak yang diinginkan.


***

Daging dipipihkan dengan palu khusus. Tak lupa taburan bumbu rahasia supaya rasanya tak hambar. Kemudian dibalur dengan tepung, lalu telur kocok, dan terakhir tepung roti. Satu wajan penuh minyak goreng dipanaskan dengan api sedang. Tak sabar menunggu pertemuan antara minyak panas dan daging. Perpaduan keduanya akan menimbulkan suara khas penggorengan. Daging dengan baluran dimasukkan perlahan. Setelah sekian menit, daging dibalik. Warna coklat keemasan mulai terlihat di satu sisi. Tak sabar menunggu matang sempurna. Gorengan daging kemudian ditiriskan. Letakkan di piring saji, kemudian sajikan dengan lauk pelengkap. Cacahan segar kubis dengan tomat ceri merah yang menggemaskan. Sentuhan terakhir, siram dengan saus yang dibuat dengan bahan dasar sayuran. Perpaduan indah untuk disantap.

Recent Posts

See All
Azka dan Rubi #4

Tim Tari Saman sekolah memutuskan untuk merekam penampilan perdana kami di aula tengah. Setelah berdiskusi dengan guru, tempat itu dirasa...

 
 
 
Azka dan Rubi #3

“Azkaaa....” Yani berteriak sejak memasuki pintu kelas. Tidak ada lagi yang kaget dengan teriakan pagi Yani karena teman-teman kelasku...

 
 
 
Akhir Pemberhentian

“Ini cuma dunia saja, Sai! Kamu selalu bilang ke aku kalau tujuan akhir kita itu akhirat, kan?” Pernyataan yang sering aku ulang-ulang...

 
 
 

Comments


Post: Blog2_Post
  • Twitter
  • Instagram
  • Tumblr

©2021 by notesthebook. Proudly created with Wix.com

bottom of page