Lelaki Tanpa Nama
- lailanabilalhuda
- Jan 7, 2024
- 2 min read
“Tasnya bisa dititipkan di loker pojok sebelah sana, mbak.” laki-laki yang duduk tepat di sampingku memberi informasi pada peserta yang baru saja datang.
"Baik sekali." Batinku lirih.
Aku pergi ke toilet untuk mencuci tangan dan membenarkan jilbab mematutkan diri. Keluar dari toilet ternyata peserta tes sudah diperkenankan untuk pergi ke ruang ujian masing-masing. Aku memutuskan untuk langsung naik ke lantai 3.
Jantungku, karena efek kafein yang selalu aku konsumsi selama dua hari berturut-turut, berdebar lebih cepat. Kadang aku juga merasakan tremor kecil yang cukup mengganggu.
Aku menaiki tangga sambil mengaduk-aduk isi tas. Mencari kartu ujian dan tanda pengenal. Aku berhenti sesaat untuk melihat nomor ruangan.
“Ruang barat, ya, mbak?” mungkin melihatku kebingungan, salah seorang panitia membantuku.
“Hmmm...” aku mencari sejenak, “Iya, barat.” ujarku sembari menunjuk nomor ruangan.
“Iya, belok kiri. Tasnya bisa ditaruh di loker pojok.”
“Terimakasih, mas.”
Nomor 15. Nomor loker milikku. Setelah meletakkan tas dan gawai, mengambil semua berkas persyaratan, aku mencari tempat duduk yang masih kosong. Tepat tempat duduk di ujung koridor.
“Tasnya bisa dititipkan di loker pojok sebelah sana, mbak.” laki-laki yang duduk tepat di sampingku memberi informasi pada peserta yang baru saja datang.
Baik sekali. Batinku lirih. Entah kenapa, diam-diam aku justru mencuri-curi pandang pada lelaki itu. Setelannya cukup rapi sehingga membuatku minder dengan tampilanku. Ia memakai baju PDH warna biru dongker, celana kain warna hitam, dan sepatu pantofel mengkilat. Ia duduk sambil memangku jaketnya yang juga berwarna biru dongker, di tangannya menggenggam berkas ujian.
Beberapa saat kemudian, ada laki-laku yang baru saja datang, dan lagi-lagi, ia melakukan hal yang sama. Menunjukkan di mana harus meletakkan tas.
Waktu menunggu cukup lama dan tidak ada gawai, jadilah aku menundukkan kepala lalu khusyuk dalam pejaman mata. Aku sempat terkaget mendengar suara panitia di ujung lain koridor. Ketika aku menoleh ke kiri, di mana di sana juga ada lelaki itu, aku menemukannya juga sedang berada dalam pejaman mata dengan tundukan kepala hening. Terlihat menikmati sekali ia dengan kesempatan itu.
Memasuki ruangan, aku masuk lebih awal dibandingkan dengan nomor urut ujianku karena ada kesamaan nama ketika sedang dipanggil. Tak lama, laki-laki yang berbaju biru tadi masuk. Tanpa ku sangka, ia memiliki duduk tepat di belakangku. “Siapa namanya?” lagi-lagi aku berbisik sendiri.
Waktu istirahat tiba, aku menuju loker untuk mengambil gawai. Aku bahkan sempat sedikit melonjak kaget ketika loker lelaki itu bahkan tepat di samping lokerku. Kebetulan macam apa ini.
Darinya aku belajar untuk semakin peduli dengan orang lain. Dari lelaki yang aku tak tahu namanya itu, aku juga belajar bahwa takdir tidak bisa dihindari. Semoga hasil terbaik untuk kita semua yang sedang berjuang dengan ujian masing-masing.
Comments