Lelaki Misterius
- lailanabilalhuda
- Sep 3, 2022
- 4 min read
Lelaki itu berjalan menuju mushola. Ia hanya mengenakan selembar kain, lebih mirip jubah, terlihat sudah tidak layak pakai, ada beberapa bagian yang sobek, mungkin karena umurnya sudah terlampau tua. Dikanan kirinya Ibu-ibu mendesah mengira lelaki itu adalah orang gila. Namun, tak ada satupun dari mereka yang berani menghentikan lelaki itu. Apakah lelaki itu terlampau aneh untuk dihentikan, atau memang lelaki itu sudah gila. Dan sampai lelaki itu menginjakkan kakinya di mushola belum ada yang menghentikannya. Ia mengambil alih mic yang tergeletak di mimbar seraya dengan lantang melafalkan adzan.
“Allahu Akbar Allahu Akbar”. Aktivitas seluruh kampung terhenti seketika. Waktu seperti ditahan beberapa detik. Jelas ini bukan waktu untuk adzan berkumandang, masih terlalu jauh. Bahkan ini terlalu pagi, baru pukul 10.00. Ibu-ibu di depan mushola kaget, dan mulai mendesah lagi.
“Orang itu memang sudah gila.”
“Iya, betul. Mana ada adzan jam segini.”
“Dia harus diberi hukuman yang setimpal atas perbuatannya. Ini tak bisa dibiarkan terlalu lama. Orang gila itu harus secepatnya kita usir dari kampung kita. Kalau terlalu lama bisa jadi malapetaka.”
“Sudahlah, kita usir saja dia dari sini. Lama-lama apa yang dia lakukan semakin tidak keruan. Daripada warga kampung kita kenapa-kenapa kita harus cepat bertindak.” salah seorang Ibu memprovokasi hal yang tidak-tidak. Suara lelaki itu terdengar nyaring di telinga. Tak bagus memang. Tapi adzannya menuai banyak kontroversi.
“Allahu Akbar Allahu Akbar...” terdengar lagi. Kali ini suaranya lebih lantang dari yang pertama. Tole, mahasiswa dari Jakarta yang kebetulan pulang kampung bergegas ke mushola. Ia ingin menjumpai lelaki yang telah menyimpang dari agama.
“Kalau mau latihan adzan kenapa harus pakai mic mushola?” batin Tole.
“Asyhadu anla ilahaillallah” terdengar lagi, Tole semakin bergegas. Memperlebar serta mempercepat langkah kakinya.
“Kenapa bisa ada orang yang adzan jam segini. Lantas dimana orang kampung yang tinggal di sekitar mushola? Apa mereka tidak mencoba untuk menghentikannya.” Tole bergumam sendiri sambil menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal.
“Asyhadu anla ilahaillallah”. Volumenya tidak juga berkurang, semakin lantang ia melafalkan kalimat Allah. Tapi di sisi lain dia juga bersalah, apa dia mau shalat subuh? Atau shalat dhuhur? Atau hanya latihan? Atau malah dia adzan untuk yang pertama dan yang terakhir dalam hidupnya? Tak bisa dipastikan. Lelaki itu terlampau jelek rupa dan penampilannya. Ia bahkan lebih mirip gelandangan kelas kakap.
“Oe... orang gila! Mau apa kau sebenarnya hah? Kau mau cari mati?” salah seorang Ibu berteriak lantang.
“Tak malukah kau dengan penampilanmu yang kotor dan robek itu? Berhentilah atau kau akan mendapat masalah besar. Ini berkaitan dengan Tuhan. Tak takutkah kau ini dengan Tuhan?” pemuda jangkung berteriak di baris terdepan di ikuti teriakan warga kampung dibelakangnya.
“Asyhadu Anna Muhammadarrasulullah” lelaki itu meneruskan adzannya. Ia sepertinya tak mau diganggu. Seperti ingin menikmati setiap detiknya.
“Oe... berhentilah! Apa kau ini belum paham juga?”
“Kau akan di masukkan penjara akibat ulahmu.”
“Apa kau lapar? Kami bisa memberimu makanan sebanyak yang kau minta,” gadis kecil berusia sekitar sembilan tahun bahkan ikut cmpur masalah ini.
“Asyhadu Anna Muhammadarrasulullah”
“Kau ini! Apa kau perlu aku seret hah?” Bapak dengan baju kotak-kotak mulai tak tahan dengan emosinya. Ia masuk mushola, menghampiri lelaki itu dengan tergesa-gesa, lalu menarik lengan lelaki tersebut.
“Cukup! Hentikan!” Tole tiba-tiba datang.
“Mohon, tenanglah sebentar! Kita dengarkan dulu penjelasan lelaki ini, baru kita putuskan bersama apa yang mesti kita lakukan. Jangan asal main hakim sendiri.”
“Tidak bisa! Sekali ada yang melanggar aturan agama, dia akan mendapat karma. Harus di asingkan. Tidak bisa di kampung terus” Mbah Bo, sesepuh kampung ikut angkat bicara mengenai kasus ini.
“Khayya a’la Shala”
“Kau ini! Dasar!” Bapak dengan baju kotak-kotak tadi memukul kepala serta menendang pantatnya.
“Maaf pak, sepertinya lelaki ini ingin menyelesaikan adzannya. Lebih baik kita tuggu dia selesai, baru kemudian kita rundingkan masalah ini bersama. Bagaimana Bapak-Ibu?” Tole berusaha mencari keputusan dengan tidak melukai siapapun. Dan akhirnya lelaki tersebut melafalkan kalimat terakhirnya.
“Laailahaillallah”
“Alhamdulillah..” serentak semua warga mengucapkan hamdalah. Semua warga sudah siap dengan posisi masing-masing. Duduk melingkar, dengan Tole sebagai penengahnya. Bapak tadi menyeret paksa lelaki yang mengumandangkan adzan. Menyuruhnya duduk tepat di samping Tole. Lelaki itu hanya menundukkan kepala tanpa mengeluarkan sepatah katapun untuk membela dirinya.
“Hey,orang gila! Apa sebenarnya maksudmu?”
“Maaf Ibu, tolong panggil dengan sebutan yang baik. Anda tak harus memanggilnya dengan sebutan ‘orang gila’.” Tole berusaha tidak menyakiti hati Ibu yang sudah mulai emosi.
“Mas Tole, apa hukuman yang pantas bagi orang ini?”
“Begini, pertama kita harus pastikan dulu apa tujun dari mas ini. Mungkin mas ini tidak tahu, atau sedang latihan adzan.”
“Lah... bukannya sudah jelas, dia itu orang gila. Lihat saja penampilannya yang kotor, compang-camping, bau pula. Masih harus di buktikan apa lagi tho mas?”
“Setahu saya orang gila itu di bebaskan dari segala dosa, sebab sedang dalam kondisi yang tidak sadar. Jadi mau ngapain aja ya terserah mereka. Kecuali penyakit gilanya sudah sembuh, itu juga sudah beda cerita. Apalagi kalau gilanya mereka sudah sejak lahir, Allah menjanjikan Syurga untuk mereka.”
“Berarti orang ini tidak bersalah?”
“Memang mas ini orang gila? Bagaimana kalau mas ini punya keinginan yang sangat amat?” pertanyaan Tole yang ini membuat warga yang hadir berfikir dua kali.
“Tujuanmu apa tho le?” tanya Mbah Bo. Diam. Tak ada jawaban.
“Oe.. dengar tidak kau ini?” seorang pemuda yang duduk di sampingnya menyenggol pinggannya cukup keras.
“Eee.. ana apa kuwi?”¹ Mbah Bo berteriak cukup kencang, mengagetkan warga lain.
“Ngopo kuwi tiba? Heh, kowe ngapakke dheweke?”²
“Aaa.. Eee..”
“Ae.. Ae..kowe kuwi. Tole, coba cekel nadine! Isih urip apa ora?”³ Mulyadi, mantan dokter
asal Malaysia mencoba keberuntungan lewat insiden ini.
“Tidak ada Pakdhe.” Teriak Tole. Warga berlarian menuju lelaki tadi, merasa heran dan terkejut. Kejadian ini Aneh bin Ajaib. Wargapun membopong tubuhnya ke Rumah Sakit untuk di periksa lebih lanjut.
----------------------------------------------------------
¹”Ada apa itu?”
²”Ada apa jatuh? Heh, kamu ngapain dia?”
³”Ae..Ae.. kamu itu. Tole, coba pegang nadinya! Masih hidup atau tidak?”
Comments