Intel
- lailanabilalhuda
- Jan 7, 2024
- 2 min read
“Ternyata kejadian seperti yang di film-film itu memang benar ada di dunia nyata, ya.” Ujarku pada Ara, sahabat karibku.
Jalanan masih lengang. Pukul 06.00 a.m.
Kami sudah berkumpul di taman kecil tersembunyi di pinggir kota. Segala peralatan tempur bahkan sudah berjejer rapi di rumput hijau. Mulai dari kertas karton, kertas quarto, spidol snowman hitam, pilox beraneka warna, spanduk, ikat kepala warna hitam dan merah, stiker untuk dibagikan, bendera merah putih, juga tak ketinggalan toa, pengeras suara. Dua orang ditugaskan untuk meliput kegiatan, berbekal satu buah kamera DSLR dan satu kamera handphone.
Lalu lalang sepeda motor dan mobil kian ramai. Tak jarang klakson berbunyi keras, menemani kami menyusun rencana long march. Kami menyamakan frekuensi sebelum benar-benar bercumbu dengan debu serta panasnya alun-alun kota, mendengar klakson berbunyi, merasai tatapan sinis atau dukungan haru para pengendara, dan siap siaga jika sewaktu-waktu diusir karena hal yang disalah-salahkan. Padahal kami baik-baik saja.
Kegiatan berlangsung aman selama setengah jam. Tentu saja kami sudah mengikuti protokol yang berlaku: memberi surat pemberitahuan aksi kepada instansi terkait dengan melampirkan jam pelaksanaan, jumlah peserta, tempat, dan susunan acara. Setengah jam berikutnya, kegiatan kami sedikit tersendat. Ada satu orang yang tiba-tiba bertanya mengenai surat izin. Dia berpakaian biasa, seperti warga sipil.
“Intel.” Sahut salah satu border.
***
Satu mobil patroli polisi menyusuri gang sempit pinggir kali dekat pemukiman warga yang kumuh. Tak tanggung-tanggung, karena sempitnya gang yang harus dilewati itu, polisi rela turun berjalan kaki mencari alamat rumah yang dimaksud.
“Alamat ini benar di sini ya, Pak?” tanya polisi kepada Pak Dos, RT setempat.
“Betul, Pak.” wajah Pak Dos sudah setengah membeku, “Ada masalah apa ya, Pak?”
“Memastikan alamat komunitas ini tidak fiktif, Pak.” peluh membahasi kening polisi.
“Wah, saya belum menerima laporan kalau ada basecamp komunitas ini di lingkungan kami.” kali ini Pak Dos tampak membela diri. “Tapi alamat ini, benar di sini, Pak.”
Surat disodorkan, lantar Pak Dos mengantar polisi ke alamat yang dimaksud. “Alamatnya tepat di sini, Pak.” Pak Dos menunjuk rumah permanen dengan halaman penuh pot pecah berantakan, sandal berserakan, kaca penuh debu, dan sawang.
Pintu digedor keras. Rubi yang sedang tidur siang kaget. Ia mengintip dari sela-sela tripleks kamar yang tembus hingga jendela ruang tamu.
“Polisi???” batinnya. Matanya membelalak lebar. Jantungnya berpacu cepat.
“Jangan-jangan mereka aksi di alun-alun tanpa berkabar dengan aku dulu! Sialnya aku!!” Nalarnya langsung memberi perintah untuk mengamankan kertas-kertas tidak penting yang berisi coretan manajemen aksi dan kumpulan ide gila teman-temannya.
Buku-buku gerakan, novel-novel Pram, catatan aktivitas, dan diktat yang tidak diperjualbelikan disesakkannya di bawah kolong kasur dan koper. Majalah bahkan tak luput dari pandangannya. Semua itu dilakukannya dalam waktu kurang dari sepuluh menit. Untungnya, ruang tamu sengaja dibiarkan tidak terisi barang-barang untuk mengantisipasi hal-hal seperti ini terjadi tiba-tiba.
Waktu seakan berlalu begitu cepat. Rumah digeledah, satu persatu barang tidak penting mulai diangkut. Dan Rubi di bawa ke kantor polisi untuk memberikan keterangan.
Sama seperti cerita-cerita mahasiswa lainnya yang berakhir dengan penjara, interogasi dingin, serta sel gelap tak layak, Rubi turut merasakannya.
***
“Ternyata kejadian seperti yang di film-film itu memang benar ada di dunia nyata, ya.” Ujarku pada Ara, sahabat karibku.
“Eh, isu itu benar, Bi?” Ara menatapku lamat-lamat.
Aku mengangguk, “Untung hanya satu malam,”
“Lalu?”
“Anehnya, polisi salah sangka. Dan aku sudah melalui siksaan kotor itu.”
Comments