Ia Bernama Rindu
- lailanabilalhuda
- Jan 7, 2024
- 2 min read
Aneh rasanya jika sebuah cerita tidak dibumbui dengan kisah bernama "dia".
Laki-laki itu berjalan mendekatiku, bukan! bukan mendekatiku! tapi laki-laki itu menuju toilet, dan aku baru saja keluar dari toilet.
Setelah sekian purnama, aku baru saja melihatnya. Kacamata lebar dengan frame warna hitam penuh ku kira menjadi ciri khasnya. Celana jins hitam dipadu dengan kemeja hitam polos menjadikannya tampak berani. Bagian lengannya selalu ia gulung sampai siku. Rambutnya tidak terlalu tipis dan tidak terlalu tebal, tidak lurus dan tidak kriting, serta belahannya selalu di samping kanan.
Satu yang berubah setelah pertemuan terakhir sekitar dua tahun silam, kumis tipisnya menghilang. Mungkin baru-baru ini dia bercukur.
Aku bingung harus menata mata ke arah mana. Menatapnya kemudian menyapa karena sudah lama tidak berjumpa, tapi tempat untuk bertukar sapa kukira tidak bagus. Bayangkan! Aku bertukar sapa dengannya di lobi menuju toilet. Oh tidak, bukan sesuatu yang romantis. Atau melayangkan pandang ke arah lain dengan pura-pura tidak mengetahui dia ada di sini, lantas menunggunya untuk menyapaku terlebih dahulu. Tapi ini juga tidak mungkin. Mata kami sudah terlanjur beradu ketika aku keluar toilet dan dia memasuki lobi toilet.
Astaga!!! Situasi ini menyebalkan.
Aku melihat matanya. Terrnyata matanya lebih dulu menatapku, entah sudah berapa lama ia menatapku demikian. Kini, dua pasang mata ini beradu pandang. Ku lihat senyum lebih dulu terkembang dari wajahnya. Tak mungkin kan jika tidak kubalas dengan senyuman juga?
"Hai, Sai!" Kenapa ini membuatku berdebar? Ini hanya sapaan kecil dari teman lama bukan? Ayolah, Sai. Jangan terlihat seperti itu dihadapan teman lamamu.
"Hai juga." Jurus tersenyum dengan menampakkan deretan gigi kulancarkan demi lontaran basa-basi di lobi toilet.
"Lama tidak jumpa," matanya masih menatapku.
"Iya," hanya ini yang bisa terucap dari sekian banyak basa-basi.
***
"Sai!" Seseorang dari kursi belakang memanggilku. Oh tidak! Kenapa dia bisa duduk tepat di belakangku? "Sehabis selesai acara ngobrol sebentar di lantai bawah yuk."
"Ngobrol apa?" Omongan iritku muncul. Berkata dan bertanya ala kadarnya. Fiuh.
"Ya ngobrol. Kalau kata orang-orang melepas rindu,"
Comments