Azka dan Rubi #2
- lailanabilalhuda
- Jan 7, 2024
- 2 min read
Pulang sekolah adalah waktu yang sangat dinanti. Kali ini, pulang sore ini, hujan turun cukup lebat. Aku tetap semangat menuju ke parkiran, mengambil mantol di jok motor, mengganti sepatu dengan sandal gunung, melirik sekilas Rubi yang sedang menata gitar dalam balutan mantol, dan aku siap bercumbu dengan derasnya hujan.
"Aku akan mampir di Abang Gorengan dekat alun-alun. Bikin Indomie rebus. Lalu teh panas." Pikiranku sudah melayang jauh. Padahal perjalanan dari sekolah ke rumah membutuhkan waktu kurang lebih 30 menit. Dan hei, ini baru 10 menit perjalanan.
Laju kendaraan mencapai kecepatan 80km/jam. Masuk gang kecil kecepatan bertahan diangka 60km/jam. Hujan mulai berlangsung reda, menyisakan jalanan licin dan orang-orang pulang kantor.
"Brakk.." aku jatuh.
Ramai orang membantuku setelah sepersekian detik berlalu. Satu orang menghampiri motorku kemudian menepikannya. Satu orang lagi membantuku berdiri. Dan satu orang pengendara di belakangku menepikan motornya, barangkali dia kaget. Sebelum aku jatuh kulihat dia konsisten di belakangku dengan kecepatan yang hampir sama selama kurang lebih 5 menit.
"Duduk dulu, mbak!" Mas tukang bengkel yang membantuku berdiri menatapku nanar.
"Tadi kamu pakai rem depan ya, Ka?" Suaranya tidak asing, pikirku. Setelah ku tenggok ke kanan, bersampingkan tempatku duduk, aku hanya bisa membatin, "Azkaa..."
Badanku masih gemetar. Pipi kiriku nyut-nyut an. Jam tanganku patah. Lututku sakit. Dan kaos kakiku bolong.
"Mbaknya ini temennya njenengan to, mas?" Bapak bengkel satunya lagi bertanya penasaran.
"Iya pak. Temen satu kelas." Jawab Azka mantap. Sedangkan aku masih mencoba menenangkan diri sambil mengambil botol minum di tas.
"Mas, ini motornya saya benerin pedalnya ya. Yang lain masih aman." Bapak tukang ban malah minta izin ke Azka, padahal pemilik motor adalah aku.
"Iya, pak. Minta tolong ya, Pak."
Setelah sekian menit berlalu,
"Kamu sejak kapan di belakangku?" Aku bertanya pada Azka dengan menatap tanah dan tangan berkali kali memastikan pipi yang tidak berdarah.
"Sejak keluar dari gerbang sekolah."
"Mbaknya gapapa to, mbak?" Tiba-tiba mas bengkel menyahut ikut khawatir.
"Tidak papa, mas. Terimakasih sudah dibantu." Ucapku lirih.
"Alhamdulillah tadi yang jatuh cuma aku." Aku seperti menggumam.
"Kau pakai rem depan ya tadi?" Azka mengulang pertanyaan nya.
"Sepertinya," aku berujar tak yakin.
"Mau pulang bareng aku?" Azka menawarkan diri.
"Iya mbak. Pulang bareng temennya aja." Mas bengkel memprovokasi.
"Aku sendiri aja. Lagian aku kan bawa motor sendiri."
"Maksudnya, aku ngikutin kami dari belakang." Nada bicara Azka ditekan. Baiklah, aku salah persepsi.
"Oh," entah apakah mukaku memerah waktu itu. Aku tak tahu. "Baiklah." Ujar ku kemudian.
Comments