Azka dan Rubi #1
- lailanabilalhuda
- Jan 7, 2024
- 1 min read
Duduk di belakang membuatku leluasa untuk mencuri-curi pandang dengan Rubi. Ketika bel istirahat pertama berbunyi, Rubi akan mengambil gitar yang disimpannya di pojok kelas dan memainkan sekitar dua lagu sebelum bel berbunyi lagi. Aku memberikan penghargaan pada diri sendiri karena menjadi satu-satunya penikmat petikan gitar Rubi. Supaya tidak terkesan menjadi seorang penanti yang menikmati, aku lebih sering menyimak dari jendela luar kelas sambil memainkan gawai.
“Bakso yuk..” Celetus Yani teman sebangkuku setelah pelajaran Matematika usai. Mungkin ia terlampau panas otaknya setelah bertemu dengan deretan angka.
“Engga deh. Aku di sini aja.” Bagiku mendengar suara Rubi sudah cukup membantu otakku relaks.
“Lu mau ngapain?” Yani masih emosi dengan soal matematika yang tak bisa ia selesaikan.
“Tidur.” Ucapku singkat sambil merebahkan kepala di meja.
Petikan senar pertama, aku menikmati setiap alunannya. Lima belas menit istirahat bagiku seperti satu hari. Lebih dari cukup untuk mendengar dentingan indah Rubi bersama dengan gitarnya.
“Kau sakit Azka?” Tiba-tiba ada suara di dekat gendang telingaku. Ketika kudongakkan kepala, itu rubi; dengan sorotan matanya yang langsung menatap mataku. Tanpa penghalang.
“Hmm.. Tidak.”
“Aku tadi mampir sebentar ke kantin, ini susu untukmu.” Rubi langsung melenggang pergi kembali ke tempat duduknya, tanpa tahu bagaimana kacaunya ekspresiku.
Bel masuk berbunyi. Tepat setelahnya, sebelum anak-anak bergerombol masuk kelas, Yuni terlebih dulu berlari dan duduk di sampingku dengan napas terengah.
“Aku rasa bel istirahat berbunyi lebih cepat dari biasanya.” Aku tak merespons.
“Kau baik-baik saja Azka? Dan, hei! Ini susu dari siapa? Kau dari kantin?” Pertanyaan beruntun dari Yuni, dan aku masih setengah sadar.
“Aku tadi ketiduran,” kalimatku belum selesai, pandanganku masih pada punggung temanku bernama Rubi, dan kelas sudah mulai ramai oleh anak-anak yang kembali dari kantin. “Rubi memberiku ini.”
Comments