top of page

Ajaran Mamak 1

  • Writer: lailanabilalhuda
    lailanabilalhuda
  • Jan 7, 2024
  • 1 min read
"Kau harus pintar-pintar jaga diri, Sai! Kau tahu bukan? Nenek kau, ibuku, punya riwayat diabetes. Esok, ketika kau sudah benar-benar memutuskan untuk merantau jauh dari mamak kau ini, ingat! Di kota, akan banyak gula tak kasat mata dalam setiap makanan. Ingat! Kau punya riwayat diabetes. Sakit itu mahal harganya, tapi sehat lebih mahal. Hati-hati dengan makananmu, Sai!"

Mamak bersemangat menceritakan perjuangan nenek.


Dulu, nenek sangat kuat mengangkat berpuluh-puluh karung gaplek, cengkih, atau kolang-kaling. Kau tahu dari mana nenek peroleh semua tenaga itu? Dari minuman manis. Kata mamak, nenek hobi minum sirop manis. Minuman manis bisa mengembalikan tenaga yang hilang. Aku tak tahu benar tidaknya teori itu; bahwa dengan minuman manis dapat mengembalikan tenaga yang hilang.


"Sai! Jangan kau palingkan muka ketika mamak sedang bicara! Tak patut sikapmu itu pada orangtua." Mamak mengeluh karena aku terus pada buku bacaanku.


"Sai ini dengarkan mamak bicara. Sai masukkan nasehat mamak dari telinga kanan, tapi kemungkinan keluar dari telinga kiri." Ku susul dengan deretan tawa yang sedikit tertahan, sedang mamak melipat tangannya ke depan dengan geleng-geleng kepala.


Setiap pagi aku selalu melihat mamak minum obat. Tak berani bertanya obat apa, aku hanya kebanyakan menerka; "Mungkin itu obat diabetes keturunan dari nenek yang selalu mamak ceritakan." atau "Mungkin obat pegal-pegal, nyeri punggung karena mamak seharian pergi ke gunung." aku hanya bisa berdoa supaya mamak senantiasa diberikan kesehatan dan selalu bahagia.


"Aku bikinkan es teh ya, Mak. Panas sekali," kerlingan mataku cukup membuat bibir mamak tersenyum. Barangkali mamak terheran dengan anaknya yang sedikit oleng.


"Tidak manis-manis. Cukup es yang banyak."


"Baik, Mak."

Recent Posts

See All
Azka dan Rubi #4

Tim Tari Saman sekolah memutuskan untuk merekam penampilan perdana kami di aula tengah. Setelah berdiskusi dengan guru, tempat itu dirasa...

 
 
 
Azka dan Rubi #3

“Azkaaa....” Yani berteriak sejak memasuki pintu kelas. Tidak ada lagi yang kaget dengan teriakan pagi Yani karena teman-teman kelasku...

 
 
 
Akhir Pemberhentian

“Ini cuma dunia saja, Sai! Kamu selalu bilang ke aku kalau tujuan akhir kita itu akhirat, kan?” Pernyataan yang sering aku ulang-ulang...

 
 
 

Comments


Post: Blog2_Post
  • Twitter
  • Instagram
  • Tumblr

©2021 by notesthebook. Proudly created with Wix.com

bottom of page