top of page

Ajaran Guru

  • Writer: lailanabilalhuda
    lailanabilalhuda
  • Jan 7, 2024
  • 2 min read
"Kau yang sekarang ini, kau yang luar biasa, kau yang banyak melakukan kejutan-kejutan kecil, adalah berkat didikan para guru-gurumu. Sampaikan salam takzim Emak pada bapak ibuk guru."

Riuh angin, berisik dahan, dan sengatan matahari nyatanya tak bisa menyaingi deru bapak dan ibuk orangtua yang antusias dengan nilai rapor anaknya. Motor dan mobil berjejer. Wali kelas bersedia di dalam ruangan menanti wali murid. Perwakilan anggota OSIS menunggu di luar kelas siap dengan presensi kehadiran wali murid.


"Pagi, pak." Aku menyapa Pak Guru Bambang.


"Ambil rapornya siapa?"


"Lai, Pak."


"Dulu, kau lulus tahun berapa, Sai?" Ketika pertanyaan ini terlontar dari Pak Guru Bambang, aku hanya mendesah kagum; setidaknya wajahku masih dikenang sebagai alumni sekolah ini.


"Lupa, pak." Lagi-lagi aku hanya mampu menyeringai. "Satu angkatan dengan Qolbi."


"Waahh.." kali ini Pak Guru Bambang memandangku lamat-lamat. "Berapa sekarang anakmu, Sai?"


Tawaku pecah. Untungnya ruang kelas cukup sepi. "Belum, Pak." Hanya itu jawaban yang mampu kuberi.


"Sudah menikah kau?" Pertanyaan masih berlanjut.


"Bolehhlah, Pak, untuk sekadar mencarikan saya jodoh." dan kembali berlanjut dengan deru tawa.


Ada lagi kisah menyenangkan tentang sekolah yang kini gedung-gedungnya sudah banyak berubah. Tapi sejauh ini, kelas dan juga masjidnya masih menyimpan aura yang sama. Bapak Guru Hadi, namanya. Beliau selalu mengajariku kor ketika ada hari-hari besar negara. Beliau juga punya panggilan sayang padaku: jika kebanyakan guru memanggilku Sai, Pak Guru Hadi selalu memanggilku Ai.


Suatu hari, ketika libur sekolah, kelompok kor diharuskan tetap masuk untuk latihan menyanyi. Akan ada upacara negara yang melibatkan perwakilan tiap sekolah menyanyi bersama. Aku sudah berlatih hampir satu pekan. Dimulai dengan nada sumbang yang berakibat nama Ai selalu menjadi sorotan. Dan berakhir dengan aku tak bisa ikut tampil walau nadaku sudah tak sumbang.


Bapak Guru Hadi melihatku berjalan di koridor, lantas segera menggulung kertas ditangannya bersiap menimpuk kepala karena tak jadi hadir pada upacara negara, "Untuk apa kau berlatih jika hasilnya tak jadi ikut, Ai?"


Refleks tanganku cepat mengelus kepala yang kesakitan akibat timpukan Pak Guru Hadi. "Sakit, pak."


"Sehat kau sekarang?"


"Alhamdulillah," jawabku.


"Nih, permen buat si Ai yang tak jadi tampil setelah nadanya tak sumbang." Bahkan belum sempat 'terimakasih' terucap, Pak Guru Hadi sudah melenggang pergi melewatiku.

Recent Posts

See All
Azka dan Rubi #4

Tim Tari Saman sekolah memutuskan untuk merekam penampilan perdana kami di aula tengah. Setelah berdiskusi dengan guru, tempat itu dirasa...

 
 
 
Azka dan Rubi #3

“Azkaaa....” Yani berteriak sejak memasuki pintu kelas. Tidak ada lagi yang kaget dengan teriakan pagi Yani karena teman-teman kelasku...

 
 
 
Akhir Pemberhentian

“Ini cuma dunia saja, Sai! Kamu selalu bilang ke aku kalau tujuan akhir kita itu akhirat, kan?” Pernyataan yang sering aku ulang-ulang...

 
 
 

Comments


Post: Blog2_Post
  • Twitter
  • Instagram
  • Tumblr

©2021 by notesthebook. Proudly created with Wix.com

bottom of page