Ajaran Babe 2
- lailanabilalhuda
- Jan 7, 2024
- 2 min read
"Tidak semua butuh teori, Sai. Kau hanya perlu memahami sedikit dari teori, kemudian mempraktikkannya. Selebihnya adalah masalah insting. Sekarang kau harus belajar melancarkan kaki-kakimu supaya tidak kaku menginjak kopling, rem, gas, dan mengganti gigi. Ini masalah pembiasaan." Babe menjelaskan dengan bersemangat.
Sore ini aku begitu mengantuk, padahal perut tak begitu kenyang dan asupan air supaya tak dehidrasi ku kira dalam batas ambang normal. Ditambah dengan angin yang berkejaran lewat pintu belakang rumah membuat mata semakin kiyip-kiyip. Ku rebahkan badan dan mata hampir sempurna menutup sebelum ada teriakan dari Babe.
"Saii!!" Aku seperti mendengar bisikan halus dari halaman rumah.
"Saii!!" Lagi. Suara itu semakin jelas.
"Saiiii!!!" Ini suara babe. Seketika aku beranjak ke depan rumah. Setengah berlari dengan tergopoh dan mata yang belum sepenuhnya membuka.
"Sini! Duduk sini!" Aku masih mencoba mencerna. Jarang sekali babe bersedia mengajariku, mengingat babe yang paling sering khawatir dengan anak perempuannya.
"Latihan mobil?" Tanyaku terheran dengan mata melotot.
"Iyalah. Kau kira ini delman?" Segera ku ambil penutup kepala kemudian bergegas kembali.
Babe menjelaskan segala teori mengenai hubungan kopling dan gigi. Mereka berdua seperti pasangan yang bertemu ketika memang seharusnya bertemu. Tak setiap saat, seperti hubungan Long Distance Relationship. Lalu ada gas dan rem yang fungsinya seperti yang aku ketahui. Gas untuk berjalan dan rem untuk berhenti.
Kata babe, "Jangan kau terlalu pikirkan tentang teori! Kau hanya perlu mencoba saja. Nanti kau akan temukan sendiri rumus mengendarai mobil."
"Kenapa ini tiba-tiba mati, be?" goncangan kecil terjadi dan mobil mati.
"Kau terlambat menginjak gas. Iringan melepas kopling perlahan dan menginjak gas sedikit demi sedikit harus seimbang. Jangan kau lepas kopling tapi tak kau injak gasnya." khas suara keras babe ku kira terdengar hingga pekarangan rumah tetangga.
"Babe! Aku tak injak gas, tapi kenapa mobil ini jalan sendiri?" suaraku sudah panik.
"Karena ini jalannya sedikit menurun, Sai!" gelengan kepala dari babe semakin bertambah kencang.
Berselang beberapa menit aku mulai terbiasa, meskipun porsi gasku kadang masih terlalu kecil. Mesin mobil beberapa kali mati mendadak. Juga kata babe, "Kau pelankan porsi remnya. Jangan terlalu kuat. Halus saja. Perlahan."
"Kaki kiriku sudah pegal karens harus menginjak kopling dari tadi." keluh yang akhirnya muncul setelah setengah jam berlalu.
"Dua putaran lagi. Cepat lakukan!" kali ini aku melakukan dengan cukup baik, tanpa banyak bertanya dan menahan kelu kaki kiri.
"Selesaiii!!" Sorakku.
"Kembali latihan esok hari, Sai!" sahut babe.
Comments