top of page

Review Buku: "Istri Bukan Pembantu"

  • Writer: lailanabilalhuda
    lailanabilalhuda
  • Jan 7, 2024
  • 2 min read
Istri harus lihai menyapu, mengepel, mencuci, menyetrika, memasak, dan segala skill-skill kerumah tanggaan lainnya. Belum lagi kewajiban istri berupa melayani suami dan mengurus anak. Kalau begini, apa bedanya istri dengan  pembantu?

Sebelum aku membaca buku Istri Bukan Pembantu karya Ahmad Sarwat, pikiranku juga sama seperti di atas. Tapii setelah aku membaca buku ini, ternyata bukan istri yang bertugas melakukan semua kegiatan tersebut, melainkan suami.

Les’t see..

“Laki-laki (suami) itu adalah pelindung bagi perempuan (istri), karena Allah telah melebihkan sebagian mereka (laki-laki) atas sebagian yang lain (perempuan), dan karena mereka (laki-laki) telah memberi nafkah sebagian dari hartanya.” (Q.S An-Nisa’: 34)

Garis bawahnya yaitu, menjadi kewajiban suami untuk memberi nafkah kepada istri. Ingat ya! Suami wajib memberi nafkah ke istri. Bukan istri memberi nafkah ke suami. Nah, yang dimaksud nafkah itu adalah termasuk makanan, minuman, pakaian, dan tempat tinggal. 

Pertama, memberi makan itu kewajiban suami kepada istri. Apabila disebut makanan, artinya bukan bahan mentah, melainkan makanan yang siap santap. Jadii.. proses memasaknya bukan tugas istri, melainkan tugas suami.

Kedua, memberi pakaian itu kewajiban suami kepada istri. Apabila disebut pakaian, artinya pakaian yang bersih, rapi, wangi, dan siap dipakai. Jadii.. kalau ada baju kotor dan bau, itu menjadi tugas suami untuk mencuci, menjemur, dan menyetrika.

Ketiga, memberi tempat tinggal itu kewajiban suami kepada istri. Apabila disebut tempat tinggal, artinya rumah dan segala isinya yang siap dipakai dalam keadaan baik. jadii.. jika rumahnya kotor dan berantakan, suami bertugas membersihkan dan merapikannya.

Adakah kisah shahabat/ shahabiyah?

Ada kisah Sa’id bin Amir r.a. Beliau diangkat menjadi gubernur Kota Himsh oleh Khalifah Umar bin Khattab. Tapi Sa’id sering mendapat komplain dari penduduknya karena sering terlambat masuk kantor. Setelah ditabayyunkan, ternyata alasan Sa’id terlambat yaitu beliau harus menyelesaikan urusan rumah tangga berupa memasak, mencuci baju, dan membersihkan rumah. Hal itu karena Sa’id tidak memiliki pembantu, sehingga harus melakukan pekerjaan rumah sendiri.

Ada lagi kisah Asma’ binti Abu Bakar. Asma’ diberikan pembantu oleh ayahnya, yaitu Abu Bakar, karena suaminya tidak bisa memberikan pembantu, dan tidak bisa selalu ada di rumah untuk mengerjakan pekerjaan rumah tangga. Dengan kebaikan Abu Bakar, Asma’ mendapatkan haknya sebagai seorang istri.

Tapiiiii......Bagaimana jika istri tetap melakukan tugas tersebut?

Itu semua bernilai ibadah bagi seorang istri karena membantu tugas suaminya. See.. islam itu indah dan mudah. Asalkan ada kesepakatan antara suami istri itu tidak dipermasalahkan. Yang menjadi titik poin utama di sini yaitu suami istri wajib tahu mengenai kewajiban masing-masing. Sedangkan pelaksanaannya bagimana itu menjadi kesepakatan bersama nanti antara suami dan istri.

Jika istri tidak keberatan untuk membantu suami melaksanakan tugas membersihkan rumah, memasak, dan mencuci baju maka itu tidak masalah. Insyaaallah setiap detiknya bernilai ibadah. Pahala mengalir terus tuh setiap harii. NON STOP

Wajib baca buku ini.. pembahasannya daging semua. Ingat ya! Buku Istri Bukan Pembantu ini bukan novel atau cerpen. Tapi buku keagamaan yang membahas mazhab atau pendapat para ulama tentang RT. Yang diriku tulis di sini hanya 0,00000...1% dari 100% isi buku :)

Recent Posts

See All
Review Film: Mencuri Raden Saleh

Awalnya, aku kira ini adalah film sejarah. Ya, memang, sebelum memutuskan menonton aku tidak melihat trailer atau review dari orang-orang...

 
 
 

Comments


Post: Blog2_Post
  • Twitter
  • Instagram
  • Tumblr

©2021 by notesthebook. Proudly created with Wix.com

bottom of page